Kamis, 28 Mei 2009

FILOSOFI JARIT Dalam Sudut Pandang Orang Jawa dan Aktifis Feminis

Pakaian adalah produk sejarah. Setiap masa selalu melahirkan mode pakaian yang berbeda. Zaman elvis Presley tentu berbeda dengan zaman Rano Karno. Jarak dan waktu memiliki kaitan penting bagi lahirnya sebuah mode. Demikian pula kondisi sosial, budaya dan politik.
Pakaian muncul karena kebutuhan manusia untuk melindungi dirinya dari sengatan matahari, dinginnya cuaca atau menutup bagian vital tubuhnya. Jadi pakaian adalah kebutuhan primitive manusia untuk melindungi dirinya dari mara bahaya.
Karenanya, setiap daerah memiliki kearifan lokal dalam menyikapi bahaya yang mengancamnya. Bagi suku Eskimo yang hidup di wilayah bersalju misalnya, mereka menggunakan baju bulu binatang sebagai pelindung tubuhnya. Sedangkan masyarakat yang hidup di padang pasir menggunakan jubah dan sorban sebagai penangkal panas dan badai gurun yang mengancam tubuhnya. Adapun masyarakat jawa kuno yang hidup di daerah beriklim tropis yang terkenal dengan terik matahari dan iklimnya yang cenderung lembab, menggunakan kain sebagai penutup badan.
Dalam masyarakat Jawa, yang disebut sebagai pakaian tradisional berkembang sesuai masa dan kondisi politiknya. Jika dikatakan jarit dan kebaya disebut sebagai pakaian nasional Indonesia yang berakar dari tradisi jawa misalnya, tentu bukan masyarakat jawa secara umum yang dirujuk. Sebab pada kenyataannya, sejarah kebaya dimulai oleh kaum bangsawan saja. Ini bisa dilihat dari relief yang tergurat di candi-candi kuno –Borobudur misalnya- selalu digambarkan bagaimana masyarakat umum ketika itu hanya memakai kain tanpa penutup dada sebagai pakaian sehari-hari. Tak terkecuali, berjenis kelamin perempuan atau laki-laki.
Hal ini menunjukkan, bahwa jarit adalah pakaian tradisional yang lebih awal digunakan oleh masyarakat Jawa kuno. Sedangkan kebaya dikenal lebih akhir melalui persentuhan tradisi para bangsawan.
Jarit sebagai pakaian trdisional adalah selembar kain yang digunakan sebagai pakaian bawahan. Awalnya, jarit tidak hanya digunakan oleh kaum perempuan. Namun jarit adalah baju untuk laki-laki atau pun perempuan. Hanya motifnya saja yang membedakan antara jarit atau kain yang dipakai oleh laki-laki atau perempuan.
Pada akhirnya, jarit memang mendapat beberapa penilaian. Ada beberapa sudut pandang yang menilai jarit bukan hanya sekedar penutup badan. Ada makna filosofis yang dianggap menyertai kemunculan selembar kain itu. Makna filosofis yang tentu tidak lepas dari sundut pandang masyarakat di sekitar pengguna jarit itu sendiri.
Bagi masyarakat Jawa, jarit bukan sekedar pakaian penutup badan. Jarit memiliki makna filosofis yang kuat berkaitan dengan setiap fase penting kehidupan manusia. Ketika seorang bayi dilahirkan, orang-orang Jawa akan membebat seluruh tubuh bayi itu dengan selembar jarit yang disebut “gedong”. Bahkan masyarakat Jawa kuno menyakini bahwa bayi-bayi itu tidak akan bisa tidur nyenyak tanpa “digedong”. Dengan “digedong”, bayi akan merasakan kenyamanan, keamanan dan kehangatan sebagaimana dalam pelukan rahim ibunya. Selain digedong atau dibebat seluruh tubuhnya kecuali wajahnya dengan jarit, bayi-bayi Jawa juga mesti digendong dengan memakai jarit. Bahkan di beberapa daerah di Jawa, muncul mitos yang cukup unik. Menurut mitos itu, bayi yang tidak pernah digendong memakai jarit akan tumbuh menjadi anak yang sulit diatur.
Fase penting setelah kelahiran adalah pernikahan. Ketika menikah, sepasang pengantin Jawa akan melalui serangkaian upacara sakral pernikahan dengan memakai jarit. Namun, tidak semua motif jarit boleh digunakan pada acara sakral itu. Motif parang dianggap sebagai motif yang paling tabu digunakan oleh sepasang pengantin. Pengantin yang memakai jarit bermotif parang diyakini akan mengalami pertengkaran besar atau rasa tidak tenang dalam membina rumah tangga. Karenanya, jarit bermotif parang sangat dihindari dalam sebuah upacara pernikahan.
Fase terakhir adalah kematian. Menurut tradisi Jawa, sebelum benar-benar dimasukkan ke dalam liang lahat, jenazah meski ditutup seluruh tubuhnya dengan selembar jarit. Hal ini diyakini sebagai pralambang perpisahannya dengan keluarga dan sanak saudara serta kehidupannya di dunia.
Begitu dalamnya arti jarit bagi masyarakat Jawa, tentu berbeda dengan ketika seorang aktifis feminis memandang jarit. Jarit bagi mereka adalah bukti begitu kuatnya sejarah patriarkhi dalam kehidupan masyarakat jawa. Dalam kacamata feminis, jarit adalah perwujudan masyarakat patriarchal untuk membatasi setiap gerak langkah perempuan. Dengan jarit, perempuan seolah dilokalisasi geraknya agar tak terlalu jauh dan terlalu cepat dalam melangkah. Upaya melokalisasi gerak perempuan di sini bukan hanya sebatas langkahnya dalam artian bahasa. Akan tetapi lebih jauh berkenaan dengan peranannya secara luas dalam cakupan sosial, politik maupun pendidikan. Bagi kaum feminis, jarit adalah pralambang keterkungkungan perempuan dalam tradisi budaya Jawa.
Dalam ranah seksual, kaum feminis juga memaknai jarit sebagai lambang keberadaan perempuan sebagai obyek seksual laki-laki. Ini bisa dilihat dari terbentuknya lekuk-lekuk tubuh perempuan berjarit dan berkebaya yang tidak kalah seksi jika dibandingkan dengan perempuan masa kini yang berpakaian ketat misalnya. Jarit juga dianggap sebagai alat mempermudah akses maskulinitas laki-laki terhadap sifat feminine perempuan. Dan nyatanya, perempuan yang berjalan dengan menggunakan jarit akan lebih mudah tersingkap betisnya daripada yang memakai rok atau celana panjang misalnya.
Pendapat aktifis feminis di atas tentu saja dengan mengandaikan jarit hanya dianggap sebagai pakaian perempuan belaka. Padahal kenyataannya, dalam sejarah pakaian tradisional Jawa, jarit bukan hanya monopoli kaum perempuan belaka. Laki-laki jawa pun memakai jarit. Meski berbeda dalam motif dan cara memakainya.
Perbedaan cara pandang orang Jawa dan para aktivis feminis dalam memaknai jarit memang tidak mungkin dipersatukan. Mengingat perbedaan mendasar keduanya dalam hal sejarah, cara pandang, basis filosofis dan metode penelitian yang mereka pergunakan. Masing-masing pun tidak untuk dihakimi mana yang dianggap paling benar. Sebab dalam sebuah tradisi intelektual, masing-masing pihak akan menghargai pendapat pihak lain.
Namun, apapun cara pandang kita, yang jelas jarit adalah bagian dari kekayaan budaya kita. Dalam selembar jarit terukir sejarah panjang sebuah peradaban. Dalam selembar jarit, ada karya, karsa dan dedikasi sekelompok manusia. Lagi-lagi, tugas kita untuk menghargainya.( Tutik NJ)

Label:

Minggu, 21 Desember 2008

MERENUNGKAN KEMBALI SEJARAH DAN APRESIASI PEREMPUAN INDONESIA DALAM MEMPERINGATI HARI IBU

Oleh: Tutik NJ. Rozin*

Coba tanyakan kepada ibu-ibu Indonesia, kenapa setiap tanggal 22 Desember bangsa Indonesia mesti memperingati Hari Ibu? Bisa dipastikan banyak dari mereka akan menggelengkan kepala. Fenomena ini tentu tidak lepas dari konteks sejarah yang melatarbelakangi penetapan Hari Ibu Nasional. Nyatanya, diskusi mengenai latar belakang penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu Nasional memang minim dilakukan.

Tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu berdasarkan Dekrit Presiden RI Nomor 316 tahun 1959. Tanggal tersebut dipilih demi mengenang kongres perempuan pertama yang dilaksanakan di Jogjakarta pada tanggal 22 Desember 1928.
Minimnya perbincangan publik mengenai sejarah penetapan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu bisa dimaklumi mengingat agenda dan semangat yang dimiliki anggota kongres perempuan pertama itu sendiri dipandang terlalu politis menurut rezim Orde Baru. Sebab sebagaimana diketahui, rezim yang berkuasa selama 32 tahun itu amat menekankan peranan perempuan sebatas sebagai konco wingking suaminya. Aktivitas organisasi perempuan selalu dikontrol sehingga tidak jauh dari kegiatan yang bersifat domestik. Seperti memasak, membuat berbagai ketrampilan, arisan dan sebagainya. Adapun aktivitas lain yang bersifat politis semacam mengkritisi kebijakan negara yang berkaitan dengan perempuan adalah hal tabu yang wajib dihindari dalam agenda kegiatan organisasi.

Dalam sejarahnya, gerakan perempuan pernah melalui era yang cukup ideologis dan massif. Setiap aktivitas tak pernah lepas dari tujuan ideologis organisasi. Kegiatan semacam memasak, mendidik anak dan membuat berbagai ketrampilan khas perempuan dibingkai dalam sebuah cita-cita besar. Mendidik anak bukan sekedar pekerjaan domestik, akan tetapi sebagai wujud tanggung jawab perempuan dan keluarga untuk membentuk generasi penerus yang berjiwa nasionalis. Arisan menjadi forum pertemuan kader organisasi untuk menyebarkan informasi dan mengkritisi berbagai masalah sosial politik. Baik dalam skala lokal, nasional maupun global.

Berbagai aktivitas organisasi perempuan yang marak dilakukan pada masa pra kemerdekaan dan orde lama itulah yang agaknya tidak disukai pemerintahan Orde Baru. Sehingga apa pun yang berkaitan dengan perempuan diusahakan agar tidak jauh dari citra dirinya sebagai seorang istri dan ibu yang santun serta penuh perhatian terhadap keluarga. Bukan terhadap urusan-urusan di luar rumah tangga.

Inilah sebenarnya yang menjadi alasan pokok kenapa terdapat perbedaan mencolok antara peringatan Hari Kartini dan Hari Ibu. Saat Hari Kartini dilangsungkan, sosok Kartini sebagai perempuan berdarah ningrat yang anggun berkebaya dan bertusuk konde amatlah ditonjolkan. Boleh dikata, Kartini dalam citranya sebagai perempuan Jawa adalah ikon yang dibangun oleh Orde Baru untuk memberi contoh bagaimana seharusnya perempuan Indonesia bersikap dalam kesehariannya.

Citra Kartini sebagai perempuan tanpa gejolak pemberontakan terhadap kodratnya terlihat melalui hegemoni citra yang selalu ditonjolkan Orde Baru setiap kali Hari Kartini diperingati. Selalu saja semangat emansipasi perempuan yang dimiliki Kartini seolah dikebiri dengan sekedar menampilkan lomba mirip Kartini atau kewajiban anak-anak sekolah untuk memakai kostum mirip Kartini.

Hegemoni citra dalam sosok Kartini memang ditujukan untuk membuat orang lupa terhadap cita-cita besar dan pemberontakannya terhadap keterkungkungan perempuan Indonesia pada masanya. Khalayak diajak untuk lupa bahwa Kartini dengan kebayanya memiliki hasrat besar untuk menjadikan perempuan Indonesia lebih bermartabat, dihargai dan memiliki andil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berbeda dengan hari Kartini yang meski mengalami pengebirian makna, namun Orde Baru masih membiarkan sejarah Hari Kartini dan peranan pentingnya dalam sejarah perempuan Indonesia menjadi diskusi wajib setiap tanggal 21 April. Pada peringatan Hari Ibu, hampir-hampir tak pernah kita temui refleksi khusus mengenai sejarah dibalik penetapan 22 Desember sebagai Hari Ibu. Bahkan, ketika masih duduk di bangku SD dulu, ketika bertanya kepada guru kenapa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu, dengan seenaknya akan diterangkan bahwa tanggal 21 April adalah hari lahir Kartini. Sedangkan tanggal 22 Desember adalah Hari lahir Dewi Sartika, pahlawan nasional asal Jawa Barat. Jawaban yang ngawur tentu saja.

Memang, terasa sekali ada sejarah yang sengaja dibuat kabur. Masyarakat diajak lupa, bagaimana awal mula tanggal tersebut ditetapkan dan dinilai penting untuk diperingati. Sehingga orang hanya mengekspresikan peringatan tersebut dengan memberikan kado istimewa pada seorang ibu. Tanpa sedikitpun memahami bahwa semangat 22 Desember tidaklah sekadar memberikan penghormatan kepada seorang ibu dengan kado atau meliburkannya dari rutinitas domestiknya.

Disamping ada ambiguitas dalam Hari Ibu itu sendiri yang membuat orang tergiring untuk memaknai hari Ibu sekedar sebagai hari memberi sebangsa kado-kadoan untuk para ibu. Ambiguitas itu bisa dilihat melalui perspektif sejarah dan perspektif nama bagi hari yang diperingati itu. Jika dilihat dari sejarahnya yang terinspirasi dari kongres perempuan Indonesia di tahun 1928, mungkin lebih tepat menamainya dengan Hari Perempuan Indonesia, bukan Hari Ibu. Sebab, kata-kata “Ibu” dengan segala atribut yang dilekatkan padanya mau tidak mau membuat orang terpaku pada peran-peran domestik perempuan. Sehingga Hari Ibu membuat orang lebih terfokus memberikan penghargaan terhadap kaum ibu atas rutinitas berat yang dilaluinya di sektor domestik. Bahkan jika ibu yang dimaksud juga berperan ganda sebagai penopang ekonomi keluarga sekalipun.

Yang membuat pemaknaan Hari Ibu menjadi semakin jauh dari semangat tanggal 22 Desember itu sendiri adalah Hari Ibu dimaknai serupa dengan peringatan Mother’s Day di beberapa negara Eropa. Padahal jelas bahwa latar belakang peringatan Mother’s Day di Eropa dan Hari Ibu di Indonesia amatlah berbeda. Jika di Eropa Mother’s Day konon berlangsung kerena turunan dari kebiasaan masyarakat Eropa jaman dulu yang memuja Dewa Rhea, istri Dewa Kronos, ibu bagi para dewa dalam mitologi Yunani kuno. Sedangkan Hari Ibu di Indonesia ditetapkan berdasarkan semangat juang perempuan Indonesia yang digalang melalui kongres Perempuan Indonesia yang pertama pada tanggal 22 Desember 1928 di Jogjakarta. Kongres itu sendiri terilhami dari sumpah pemuda yang mendengungkan persatuan bagi seluruh organisasi-organisasi pemuda Indonesia ketika itu, yang masih bersifat kedaerahan. Kongres perempuan pertama itu juga memiliki semangat untuk menyatukan gerakan perempuan Indonesia. Agar memiliki kekuatan lebih signifikan. Dibandingkan sebelumnya, ketika organisasi-organisasi perempuan yang ada saat itu, yang masih tersekat-sekat tanpa memiliki kekuatan cita-cita bersama. Dari perbedaan latar belakang Mother’s Day dan Hari Ibu ini saja seharusnya ada perbedaan cara pandang dalam memperingati Hari Ibu.

Kongres nasional pada tanggal 22 Desember 1928 yang menjadi tonggak sejarah penetapan Hari Ibu sendiri menjadi penting dikaji karena banyak pelajaran yang bisa diambil dari sana. Meski dilaksanakan pada masa kolonial Belanda, isu-isu yang dibahas terbukti cukup cerdas dan berani. Bahkan bisa dibilang beberapa diantaranya masih aktual diperbincangkan dan diperjuangkan oleh gerakan perempuan hingga saat ini.

Kongres dihadiri oleh sejumlah perwakilan organisasi perempuan Indonesia ketika itu. Diantaranya, Wanita Utomo, Putri Indonesia, Wanita Katolik, Wanita Mulyo dan bagian-bagian perempuan di dalam SI, Jong Islamieten Bond dan Taman Siswa. Kongres ini diprakarsai oleh tiga tokoh perempuan. Pertemuan diselenggarakan atas dasar keprihatinan para tokoh perempuan terhadap semangat provinsialisme yang muncul di kalangan organisasi perempuan saat itu. Kongres itu memiliki agenda penting mengenai semangat nasionalisme perempuan Indonesia. Bahwa sebagai perempuan, mereka adalah bagian penting dari sebuah bangsa.

Nasionalisme dipandang sangat penting dikobarkan di kalangan perempuan Indonesia mengingat saat itu bangsa Indonesia masih berada dalam kekuasaan Belanda. Sebab jika gerakan perempuan terkungkung dalam fanatisme kedaerahan atau provinsialisme, kemerdekaan Indonesia akan semakin jauh dari harapan untuk diwujudkan. Disinilah eloknya kesadaran berbangsa perempuan Indonesia saat itu. Mereka tidak hanya berjuang demi kebebasan dirinya sebagai perempuan, akan tetapi mereka telah mencapai kesadaran untuk berupaya berjuang bersama, baik laki-laki atau perempuan, sebagai bagian sebuah bangsa demi kemerdekaan rakyat Indonesia.
Tiga pemrakarsa kongres perempuan pertama Indonesia itu adalah Nyi Hajar Dewantara, pendidik dan istri tokoh pendiri Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara, Ni Suyatin, seorang pamong di Perguruan Taman Siswa dan Ny. Sukonto, aktivis organisasi perempuan Wanita Utomo.

Selain isu nasionalisme sebagai agenda pokok, beberapa persoalan perempuan secara umum juga menjadi agenda penting kongres tersebut. Agenda tersebut diantaranya mengenai pendidikan untuk kaum perempuan, nasib yatim piatu dan janda, perkawinan di bawah umur, reform undang-undang perkawinan Islam, pentingnya meningkatkan harga diri di kalangan kaum perempuan dan kejahatan kawin paksa serta gerakan anti poligami.

Dari agenda penting tersebut beberapa diantaranya menjadi perhatian khusus dan mendapat rekomendasi dari para peserta kongres untuk segera ditindaklanjuti. Rekomendasi kongres itu meliputi membentuk organisasi payung yang membawahi dua puluh organisasi perempuan yang telah ada saat itu. Kedua; mengupayakan dana belajar atau beasiswa bagi para gadis. Ketiga; semua anggota organisasi perempuan dituntut melakukan kampanye anti perkawinan di bawah umur. Keempat; mengajukan usul kepada pemerintah guna mengadakan jaminan sosial untuk yatim piatu dan menambah jumlah sekolah perempuan.

Yang bisa kita pelajari dari kongres perempuan itu adalah bagaimana dengan keterbatasan informasi, komunikasi dan transportasi, ternyata perempuan Indonesia pada masa itu mempunyai kepedulian tinggi terhadap nasib perempuan secara umum. Bahkan secara sadar para aktivis perempuan itu berusaha menggalang semangat persatuan dan nasionalisme sebagai landasan dasar untuk bergerak bersama seluruh bangsa –laki-laki dan perempuan- mewujudkan Indonesia yang merdeka dan berkeadilan sosial.

Lebih dari itu, peringatan hari Ibu adalah saat bagi perempuan untuk bersama-sama merefleksikan kontribusinya sebagai bagian dari sebuah bangsa. Hakikat seluruh perempuan adalah menjadi ibu. Baik ibu bagi anak-anak yang dilahirkannya maupun bagi generasi bangsanya.

Menjadi ibu berarti memposisikan diri untuk mengabdikan diri bagi keberlangsungan hidup dan kualitas anak-anak bangsa. Dalam hal ini yang perlu dibangun adalah pemahaman bahwa peran sebagai ibu, baik dalam lingkup keluarga maupun negara, tidak akan mampu dilakukan dengan maksimal tanpa ada upaya pengayaan diri perempuan itu sendiri. Sebab hanya ibu yang berkualitas yang mampu melahirkan generasi yang berkualitas.

Label:

Rabu, 17 Desember 2008

PEREMPUAN USANG

Oleh: Tutik Nurul Jannah

Siang yang senyap, entah mengapa, mingu-minggu terakhir ini aku hamper selalu terjebak dalam kesunyian. Tanpa kawan berbincang. Tanpa alunan music atau suara tawa bahagia di sekelilingku. Sejak kutempati gedung yang dibangun di atas bukit ini enam bulan yang lalu, mungkin baru kali ini aku menyadari bangunan ini terlalu besar untukku. Tapi jujur, sampai kini, aku masih merasa layak menempatinya. Bukankah aku yang terplih.

Kulangkahkan kakiku dengan tertata. Kucoba merasai setiap jejakku, sepertinya aku memang berhak meniyakan keanggunan yang disandarkan orang padaku. Kumasuki setiap ruangan, dan kusentuh setiap benda hadiah dari para pengagumku, seakan Dewi Sri yang memberkati anak bumi dengan kesuburan dan kemakmuran. Tapi kejenuhan segera menyergapku. Aku diam sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk menikmati siang ini bersama sudut-sudut kamarku.

Kumasuki ruangan bercat biru muda itu, harum melati segera menyambutku. Ada keheningan tercipta. Tapi aneh, dalam ruangan ini aku tak merasa sendiri. Kututup pintu pelahan. Pandanganku segera merabai segala yang ada di dalamnya. Ranjang bersprei warna gading bermotif lembut berada di tengah ruangan. Di sebelahnya, meja kecil dengan lampu berhiaskan patung perempuan setengah telanjang. Lukisan wajahku menempel kokoh di dinding sebelah kiri. Almari berukir indah di sisi yang lain. Lalu cermin…,

“Tuhan…!”

Aku memekik lirih, ternyata dugaanku tak salah. Ketika mataku tertumbuk pada sosok dalam cermin itu, kusadari memang ada sosok lain dalam ruangan ini. Dengan hati-hati segera kucoba menyapa dan tersenyum ramah padanya. Tak seperti harapan, sosok itu tak menyambut keramahanku. Ia hanya tersenyum samar dengan mata kuyu dan wajah yang mulai terlihat keriput. Aku ragu sejenak, jangan-jangan ia enggan berkenalan denganku, atau lagi nggak enak badan.

Dengan keberania yang dipaksakan, kembali aku menyapanya,

“Sedang sakit mbak?”

Barangkali sikapku yang bersahabat ini dapat menjawab keresahan di matanya. Namun ia tetap diam. Aku semakin tak mengerti mengapa ia masih juga tak mau menjawab pertanyaanku. Dan kulihat hanya bibirnya yang bergerak-gerak tanpa suara ketika kulontarkan sebuah Tanya padanya.

Aku berhenti bertanya. Kuamati sosok di hadapanku itu dengan lebih seksama. Wajahnya lonjong dengan kulit yang tak lagi muda. Kekeriputan mulai membayang di sudut mata, bibir dan janggutnya. Badannya yang tidak begitu gemuk terbungkus kaos ketat. Rok sebatas lutut menampakkan kakinya yang ramping dihiasi bulu-bulu halus.

Reflek kugerakkan tubuhku ke samping. Dalam cermin, sosok itu kulihat sedang merabai pantatnya. Pantat yang mulai mengendur, layaknya bantal yang menempel dan hamper jatuh dari badan. Kuputar-putar tubuhku. Tapi aku terkejut,

“Edan!”

Aku mengumpat kasar.

Kusadari ternyata sosok dalam cermin itu sejak tadi mengamatiku, seperti aku mengamatinya. Dia berdiri seperti aku berdiri. Dan dia juga memutar-mutar tubuhnya seperti aku memutar-mutar tubuhku. Aku mulai kesal. Dia mengejekku dengan menirukan setiap gerak yang kulakukan.

“He… jangan main-main, seenaknya menirukan gaya orang lain. Nggak sopan!”
Aku kembali mengmpatnya. Dan bukannya balas mengmpat, sosok aneh itu hanya diam dengan wajah agak keriput dan mulut terkatup.

Kupandangi perempuan itu dengan tatapan mata tajam, biar dia mengerti bahwa aku tidak suka pada sikapnya yang sok itu. Dan dia memang perlu tahu siapa sebenarnya aku. Bagaimana selama ini orang-orang di sekitarku selalu menatap kagum padaku. Bagaimana setiap manusia berusaha memenuhi keinginanku. Bagaimana laki-laki dan perempuan bisa berbincang dan menikmati senyum indahku. Ach…! Tapi perempuan setengah keriput di depanku ini??

Hah, dengan berani dia ganti menatapku dengan pandangan lebih tajam. Aku mulai bergidik. Antara takut dan benci. Tapi aku tetap berupaya tegar. Aku tidak boleh goyah oleh perempuan angkuh itu, sebagaimana aku bisa menaklukkan berpuluh lelaki terhormat di negeri ini, akupun harus bisa menunjukkan wibawaku di hadapannya. Sebagaimana aku bisa menghujani pesona pejabat-pejabat Negara, akupun harus bisa menaklukkannya.

Tapi nyaliku terasa semakin ciut. Apalagi saat sosok di cermin itu berdiri tegak persis seperti posisi berdiriku kini. Kepalanya yang sedikit mendongak, seolah menantangku beradu mata. Kugerakkan kakiku mendekatinya. Semakin dekat, semakin dekat. Hingga ujung hidungku menyentuh ujung hidungnya. Matakupun semakin dekat dengan matanya.

Kutatap putih mata itu, kemudian bulatan hitam di tengahnya, sampai titik terkecil dari indra penglihatan itu. Tiba-tiba nafasku memburu. Aku tersentak.

“Tidak…, Tidak…!”

Aku menjerit histeris sambil menjauh dari cermin sialan itu. Dengan terengah-engah, kuhempas tubuhku ke pojok ruangan.

“Tidak…, Tidak…, Aku tak percaya!”

Air matakupun beruraian. Bagaimana mungkin, aku yang selalu dipuja banyak orang, dikagumi, dirindukan, didambakan. Tiba-tiba menjelma menjadi perempuan keriput yang sama sekali tak menarik.

Aku masih menangis, tapi hati ecilku tetap tak percaya dengan apa yang kusaksikan barusan. Siapa sebenarnya perempuan dalam cermin tadi. Mengapa dalam manik matanya ada bayangan perempuan yang sama persis sepert dirinya. Padahal yang kutahu selama ini, dalam manik mata seseorang pasti tergambar apa yang ada di depannya. Dan yang ada di hadapannya itu hanya aku, berarti…

“Akukah itu?”

Kurabai mataku, hidungku, bibirku, daguku. Ach…, benarkah aku tak cantik lagi. Karea itukah pejabat-pejabat yang dulu memujaku, kini tak lagi memanjakanku. Aku masih tak percaya. Kembali kuhampiri cermin itu. Dan kembali kudapati perempuan bermata kuyu dengan wajah mulai keriput persis bayangan dalam manic mata itu.

“Tidak, Cermin keparat!”

Aku mulai tak sabar lagi. Kuambil botol parfum di atas meja rias. Kulempar dengan kasar kea rah cermin tak tahu diri itu.

“Pyi…arrrr…”

Belum puas, kucari botol parfum lain. Kulempar satu per satu. Masih belum puas. Kuobrak-abrik meja riasku, lalu dengan nafas memburu, kuangkat bingkai cermin dan kuhempaskan ke lantai. Dan cermin itu berkeping-keping.

“Aduh!”

Aku memekik. Darah mengucur dari telapak tanganku. Rupanya cermin itu belum cukup menghinaku, dia juga tega melukai tanganku.

“Cermin terkutuk!”

Kuinjak pecahan-pecahan yang berserakan di lantai. Dan kuhempaskan tubuhku yang masih dipenuhi amarah di atas ranjang. Kucoba menenangkan diri. Mulai kuatur nafasku. Mataku menerawang sebelum akhirny terlelap. Namun suara gedoran di pintu, menyentak kesadaranku.

“Hei perempuan, sedang apa kau di dalam,”

Aku tak menyahut.

“Ayo segera kemasi barangmu, tuan Presiden menyuruhmu segera meninggalkan villa ini!”

Label:

Kamis, 04 Desember 2008

SAYANG, AKU BUKAN ANAK NAWANG WULAN! Oleh:Tutik Nurul Jannah

Satu kebiasaan yang kusuka menjelang tidur adalah ketika ibu bertutur tentang cerita-cerita yang konon pernah terjadi pada zaman dulu sembari mengelus rambutku. Kebiasaan yang menjelma ritual yang telah berlangsung entah sejak kapan, hingga kini, saat usiaku menginjak tiga belas tahun. Kisah Rama-Shinta, Perang Bhatarayudha hingga percintaan Nawang Wulan dan seorang pemuda desa, Jaka Tarub, semua kuingat luar kepala. Namun, lebih dari cerita yang lain, kisah Nawang Wulan membawa kesan tersendiri dalam benakku. Bagaimana seorang pemuda desa yang lugu, sederhana dan sedikit naïf berinisiatif mencuri selendang keramat milik seorang bidadari. Dan akibat ulahnya itu, ia berhasil “memaksa” sang bidadari meninggalkan kehidupannya di negeri asalnya. Tak bisa kubayangkan, Bagaimana bahagia perasaan Jaka Tarub ketika ia berhasil memperistri putri kahyangan itu. Tetapi, di tengah lamunanku tentang kebahagiaan Jaka Tarub, anganku selalu terhenti ketika sampai pada babak terakhir cerita itu. Nawang Wulan. Kenapa perempuan jelita itu akhirnya memilih kembali ke negeri asalnya setelah berhasil menemukan kembali selendang keramatnya. Padahal, lebih dari segala keindahan dunia kahyangan, di bumi pun ia memiliki harta yang tak kalah berharga. Suami dan putri tunggal mereka. Tiba-tiba keresahan menghimpit dadaku. Bagaimana perasaan seorang gadis kecil yang ditinggal oleh ibundanya. Samakah kerinduan putri bidadari itu dengan kesunyian yang kurasakan kini.

“Ibu, kenapa Nawang Wulang pulang ke Kahyangan?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulutku pada suatu pagi. Ibu yang sedang membuat pola pada kain jahitan seorang pelanggan menoleh sejenak padaku.

“Karena dia telah menemukan kembali selendangnya.” Jawab ibu singkat.

“Apakah hidup di Kahyangan lebih enak daripada hidup di desa?” Aku kembali bertanya. Ibu hanya mengangguk pelan.

“Lalu, kenapa bidadari itu mau menikah dengan Jaka Tarub?” Aku masih belum puas.

“Karena Jaka Tarublah orang yang pertama ditemuinya di negeri asing itu. Apalah arti seorang warga kahyangan tanpa selendang yang bisa membuatnya terbang kembali ke negeri asalnya.”

Kali ini ibu menjelaskan sambil memandangku. Mungkin dia heran, kenapa aku begitu antusias bertanya tentang Nawang Wulan.

“Kalau begitu, kenapa dia tega kembali ke kahyangan tanpa membawa anak dan suaminya. Tidak sayangkah bidadari itu pada keluarganya?”

Kata-kataku meluncur deras tanpa bisa dibendung. Dan itu cukup untuk menghentikan ibu dari pekerjaannya. Dipandanginya bola mataku. Lekat.

“Ibu bercerita tentang Nawang Wulan kepadamu bukan untuk membuatmu berpikir macam-macam!” Ibu berkata tegas.

Aku terdiam. Mungkin ibu membaca keresahanku. Keresahan yang mungkin menjadi kegelisahannya juga. Sejak saat itu, aku tak berani bertanya lagi tentang alasan Nawang Wulan yang meninggalkan keluarganya kepada ibu. Sejak saat itu pun aku mengerti, pertanyaan itu hanya akan menambah beban ibu.

Kenapa bayangan Jaka Tarub dan putrid semata wayangnya yang bersedih tak pernah berhenti melintas dalam benakku. Alasannya sederhana, karena aku merasa mereka berdua adalah teman sependeritaan denganku. Dulu, ketika aku berusia sembilan tahun, aku mulai tidak terampil membendung pertanyaan dalam benakku. Kemudian mulailah aku nyinyir bertanya pada seorang tetangga yang kuyakini cukup tahu tentang ayah ibuku. Menurut tetanggaku itu, ayahku lahir dari keluarga berada. Sedangkan ibuku adalah anak seorang lelaki yang pernah terlibat partai terlarang di negeri ini. Keduanya nekad menikah tanpa persetujuan keluarga. Membangun rumah tangga dengan serba pas-pasan. Hingga aku lahirpun, kondisi ekonomi mereka belum juga membaik. Bahkan boleh dibilang semakin memprihatinkan.

Menurut tetanggaku itu, sampai aku berusia tiga tahun, ayah masih terlihat sering membantu ibu memandikanku, bahkan kadang menyuapiku. Hingga suatu hari. Ketika usiaku tiga tahun lebih dua bulan, datang kabar bahwa nenek dari ayahku sedang sakit keras. Ayah diminta segera pulang oleh keluarganya. Semula ayah menolak jika kepulangannya itu tanpa beserta aku dan ibu. Tapi dengan besar hati ibu membujuk ayah agar memenuhi permintaan keluarganya itu.

“Ayahmu pun luluh oleh bujukan ibumu, dia memutuskan kembali pada keluarganya sendiri, tanpa kau dan ibumu.” Tetanggaku itu mengakhiri ceritanya.

Dan sejak itu, ayah tak pernah kembali pada kami. Bahkan, hingga ibu pindah kontrakan lima kali.

Aku sedih mendengar penuturan tetanggaku itu. Kusembunyikan air mata yang mulai menggenang. Aku malu menangisi kepergian ayah. Tapi aku begitu merindukannya.
***

Malam itu, kupandangi wajah ibu yang sedang menyelesaikan baju jahitan seorang pelanggan. Keriput diwajahnya demikian kentara.

“Sebenarnya ibu masih cukup cantik.” Gumamku dalam hati. Tapi agaknya ibu sudah tak lagi berselera merawatnya. Ah, apalah arti kecantikan bagi perempuan yang sudah demikian penuh kekecewaan dan kesakitan itu.

“Sudah malam Yon. Mendingan tidur daripada bengong.”

Meski tanpa memandangku, agaknya ibu tahu apa yang sedang kulakukan. Aku mematung sejenak sebelum akhirnya beranjak tidur.

Pukul dua dini hari. Aku masih setengah terlelap ketika kurasakan bahuku tergoncang kasar. Ibu menarik tanganku dengan gugup. Aku terkejut bukan main. Sementara di luar terdengar suara gaduh orang-orang yang berlari dan berteriak histeris.

“Bangun Yon, rumah sebelah sudah habis terbakar.” Ibu berteriak panik.

Sementara tangan kananya menyeretku keluar, kulihat tangannya yang lain berusaha menyambar benda-benda yang bisa diselamatkan. Kuikuti tarikan tangan ibu. Dan benar saja, tepat saat kami sampai di pintu rumah, terdengar ledakan keras. Detik berikutnya, rumah berdinding kayu yang selama ini kami huni, telah tergulung api. Atap rumah runtuh. Berdebum. Kami berlari menjauh. Suasana hiruk pikuk tak karuan. Kami berlari sekuat tenaga. Hingga tiba-tiba kurasakan ibu melepaskan pegangan tangannya. Kemudian kulihat tiba-tiba dia bersimpuh. Nafasnya masih tersengal. Tubuhnya terguncang oleh tangis. Aku berdiri disampingnya. Terpaku.

“Ayahmu Yon. Ayahmu. Dimana ayahmu sekarang, Yon!”

Aku tercekat. Diam tanpa tahu mesti berbuat apa. Setelah sekian tahun sejak ayah pergi. Baru kali ini kedengar ibu memanggil-manggil ayah. Meski setiap malam di antara tidur lelapku, seringkali kudengar samar suara tangisan ibu, namun di depanku ibu selalu terlihat tegar. Ibu menyembunyikan kesakitannya seorang diri.

Kini kupandangi nyala api yang masih demikian pongah merebut semua yang kami miliki. Detik berikutnya, antara sadar dan tidak, tiba-tiba kulihat seorang lelaki paruh baya yang garis wajahnya serupa dengan raut wajahku seolah datang menghampiriku. Tangannya terkembang hendak merangkumku. Aku tersenyum bahagia. Sementara tak jauh dariku kulihat seekor burung elang dengan botol obat diparuhnya, menghampiri seorang gadis kecil. Melihat elang dan gadis kecil itu, akupun langsung mengerti, bahwa elang itu adalah utusan sang bidadari demi kesembuhan putrinya dari kebutaan akibat kebengisan sang ibu tiri. Kupandangi burung elang dan sosok lelaki setengah baya diantara kobaran api itu bergantian. Aku tersenyum dengan garis bibir yang tak mungkin digambar ulang. Aku merasa nasibku benar-benar seberuntung putri Nawang Wulan itu.

“Ayah, akhirnya kau datang menolong kami.” Aku berteriak lepas.

“Ayah, Aku begitu merindukanmu.” Aku berteriak sekali lagi. Aku ingin ayah tahu, betapa aku menunggunya begitu lama.

Tapi bukannya memelukku. Lelaki yang kuyakini sebagai ayah itu justru kulihat seolah memudar. Sosoknya luruh diantara kobaran api. Berubah menjadi asap yang membubung tinggi. Tidak. Tak ada burung hantu dengan botol obat diparuhnya. Tidak juga ayah yang mengembangkan kedua tangannya. Hanya ada aku yang terpaku di samping ibu. Memandangi kobaran api. Air mataku jatuh satu-satu. Kurasakan sunyi melebihi sebelum kulihat bayangan lelaki paruh baya tadi.

Label:

Selasa, 28 Oktober 2008

SISI LAIN IBADAH HAJI, ORANG INDONESIA DI TANAH SUCI

OLEH : TUTIK NJ ROZIN

Musim haji datang lagi. Inilah saat tersibuk bagi mereka yang memiliki wilayah kerja berkaitan dengan ibadah haji. Ibadah haji memang berbeda. Tidak sebagaimana ibadah dalam rangkaian rukun Islam yang lain seperti syahadat, sholat, puasa dan zakat. Sebagai rukun Islam yang kelima, Allah SWT hanya mewajibkan ibadah haji bagi mereka yang mampu. Mampu di sini berarti kuasa melakukan ibadah secara finansial, fisik, mental dan spiritual, serta keamanan. Karena ibadah ini hanya dikhususkan bagi mereka yang mampu, maka setiap muslim yang berniat melaksanakan ibadah haji mestilah menyiapkan diri sebaik mungkin.

Banyak bekal pengetahuan dibutuhkan seseorang sebelum menunaikan ibadah haji. Apalagi sebagaian besar calon jama’ah haji adalah mereka yang berusia lanjut atau memiliki latar belakang pendidikan pas-pasan. Disinilah sebenarnya tantangan bagi para penyelenggara bimbingan manasik haji untuk mampu memberikan pengetahuan dan pembekalan bagi para calon jama’ah haji dengan lebih menyeluruh.

Selain beribadah, haji adalah momen penting bagi umat Islam dari berbagai benua untuk bertemu. Mereka yang awalnya hanya mengenal tetangganya yang berbahasa Jawa, Batak atau Madura, ketika berada di tanah suci memiliki kesempatan bertemu saudaranya sesama muslim dari Afrika, Turki atau India. Banyak hal positif bisa dipetik dari pertemuan Muslim antar bangsa ini.

Manfaat yang bisa diambil diantaranya adalah bisa melihat secara langsung betapa beragamnya bahasa, adat istiadat maupun tata cara beribadah yang dipraktikkan. Ketika sampai di Masjidil Haram, saat itulah seorang jama’ah akan mengetahui betapa beragamnya Allah menciptakan manusia di dunia. Bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan segala ciri khas yang dimilikinya.

Muslim Indonesia yang menduduki jumlah terbanyak di antara sekian juta jama’ah haji di dunia mestinya mampu melihat momen ibadah haji dalam konteks pertemuan muslim sedunia dalam rangka memenuhi panggilan Allah. Bagaimana Allah SWT memberi kesempatan terhadap umat manusia yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa bertemu di satu titik, Baitullah. Manusia yang beragam itu berduyun-duyun sembari berteriak “Kami datang memenuhi panggilanmu ya.. Allah.” Dan ketika Allah memberi kesempatan umat manusia untuk bertemu, seharusnya ada refleksi ibadah yang lebih mendalam yang bisa dilakukan. Bagaimana ibadah haji mampu menjadi bagian dari bentuk ibadah yang shaleh secara ritual dan sosial.

Banyak cara bisa dilakukan ketika manusia ingin mewujudkan ibadahnya agar shaleh secara sosial dan ritual. Dalam hal ini, sebagai bagian dari masyarakat muslim dunia, jama’ah haji Indonesia seharusnya mampu menjaga prilaku dan etika pergaulannya di kalangan bangsa-bangsa di dunia.

Dari catatan penulis, paling tidak ada dua hal yang patut untuk direnungkan dan disikapi mengenai prilaku orang Indonesia di tanah suci. Baik berkaitan dengan jama’ah haji atau pun mukimin Indonesia yang berada di sana. Diantaranya mengenai julukan “Siti Rahmah” dan calo Hajar Aswad. Catatan mengenai “Siti Rahmah” dan calo Hajar Aswad menjadi penting karena terjadi di tanah suci. Tempat umat muslim dari seluruh penjuru dunia datang untuk beribadah, memenuhi panggilan Allah.
Yang pertama mengenai “Siti Rahmah”. Sebenarnya, ini lebih berkaitan dengan prilaku jama’ah haji Indonesia,terutama yang berjenis kelamin perempuan selama di tanah suci. Dalam beberapa dekade terakhir, sudah lazim terdengar panggilan “Siti Rahmah” untuk jama’ah haji perempuan Indonesia. Setiap kali perempuan Indonesia lewat, para pedagang atau polisi memanggil perempuan Indonesia dengan panggilan ‘siti Rahmah’. Panggilan tersebut mungkin bukan masalah bagi yang tidak mengerti asal mula sebutan “Siti Rahmah” disandarkan kepada jama’ah haji Indonesia.

Nyatanya, jika disadari sebutan “Siti Rahmah” bagi perempuan Indonesia sebenarnya cenderung melecehkan. Apalagi bagi para perempuan yang saat itu berposisi sebagai dzuyuf Allah, tamu Allah. Sebab ‘Siti Rahmah’ tak lebih merupakan sebutan bagi perempuan berkedudukan rendah. Sedangkan bagi perempuan berkedudukan tinggi atau terhormat, akan dipanggil sebagai Sa’diyyah”, ‘Masyithoh’ atau ‘Maryam’. Dan untuk tiga sebutan yang terakhir biasanya diperuntukkan perempuan-perempuan berkebangsaan Arab atau perempuan-perempuan berpenutup seluruh badan.

Tapi itu bukan berarti orang Indonesia yang memiliki nama asli Siti Rahmah sama dengan perempuan berkedudukan rendah. Lagi-lagi ini hanya persoalan bahasa dan istilah. Secara bahasa Siti berasal dari kata Sayyidah yang artinya tuan putri. Sedangkan Rahmah artinya sayang. Siti Rahmah berarti tuan putri atau perempuan mulia yang penuh kasih sayang. Namun secara istilah, pada dekade terakhir, panggilan “Siti Rahmah” cenderung disandarkan kepada perempuan berkasta rendah. Dan celakanya –menurut pengamatan penulis- hanya perempuan Indonesia yang dipanggil dengan nama tersebut.

Tapi kenapa hanya perempuan Indonesia yang mendapat sebutan “Siti Rahmah”? Bukan orang Malaysia, Singapura atau Philipina yang notabenenya berwajah serupa? Ternyata hal ini terkait dengan prilaku perempuan Indonesia sendiri. Bahwa di Arab Saudi, perempuan Indonesia lebih banyak dijumpai sebagai pembantu rumah tangga memang tak bisa dipungkiri. Padahal sebagaimana diketahui, masih banyak orang Arab yang memandang pembantu tak lebih dari budak. Sebab sama-sama dibeli. Budak pada jaman dahulu dibeli dari pemilik pertama, sedang pembantu jaman sekarang dibeli dari para agen penyalur TKW yang ada.

Namun lebih dari itu, perilaku para jama’ah haji perempuan Indonesia yang juga menjadi pendorong kuat mengapa julukan “Siti Rahmah” diberikan kepada mereka. Kebiasaan bersikap ganjen ketika menawar barang bahkan ada yang sambil towal-towel pedagangnya hanya agar mendapatkan harga miring rupanya menjadi trik yang umum dipraktikkan oleh jama’ah haji Indonesia. Padahal dalam tradisi masyarakat Arab Saudi, terutama di Tanah Haram, perempuan terhormat haruslah berpakaian rapat setiap keluar rumah. Bahkan kalau perlu mata pun mesti ditutup agar tidak terjadi kontak dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Jika perempuan Arab yang sedang berbelanja, dapat dipastikan tawar-menawar terjadi dengan tegas. Bukan lendat-lendet kemayu.
Kebiasaan ibu-ibu yang menawar dengan sedikit ganjen demi mendapatkan harga miring inilah yang sebenarnya penting menjadi perhatian para pembimbing manasik haji di Indonesia. Sebab jika dibiarkan, disamping tidak sesuai etika juga merusak citra perempuan Indonesia. Sebab Haji adalah momen pertemuan muslim dari berbagai penjuru dunia. Di Malaysia misalnya, etika semacam ini cukup menjadi perhatian para pembimbing setempat. Menurut seorang jama’ah haji asal Malaysia, salah satu materi yang diterimanya dalam bimbingan ibadah haji adalah mengenai etika selama berada di Tanah Suci. Semacam bagaimana perempuan mesti persikap dan berpakaian selama menunaikan ibadah haji. Termasuk larangan untuk berdandan atau mengadakan kontak mata apalagi kontak fisik dengan yang bukan muhrimnya. Itulah mungkin sebabnya kenapa jama’ah haji asal Indonesia mendapatkan julukan berbeda dengan jama’ah haji asal negara serumpun lainnya. Semuanya kembali kepada sikap dan prilaku manusianya.
Masih terkait dengan prilaku orang-orang Indonesia di Tanah Suci, catatan berikutnya yang cukup penting adalah mengenai praktik percaloan yang beberapa tahun terakhir marak terjadi di sekitar mathaf atau tempat thawaf. Berbeda dengan calo yang banyak beroperasi di Indonesia semacam calo karcis atau calo pencalonan bupati, calo yang beroperasi di sekitar Ka’bah adalah calo Hajar Aswad.

Bagi jama’ah haji umumnya, mencium Hajar Aswad adalah idaman. Siapapun berharap memiliki kesempatan mencium batu berwarna hitam yang dipercaya merupakan salah satu batu dari surga yang diturunkan ke dunia. Umat muslim pun berlomba menciumnya sebagaimana Nabi Muhammad melakukannya. Tapi mencium Hajar Aswad memang bukan persoalan mudah. Bayangkan saja jika sekian juta manusia memperebutkannya, sepersekian juta pula peluang untuk meraihnya. Besarnya hasrat setiap jama’ah haji untuk mencium Hajar Aswad inilah yang rupanya ditangkap beberapa oknum sebagai sebuah “peluang usaha”. Dan celakanya, para calo itu adalah orang-orang Indonesia juga.

Biasanya para calo beraksi secara berkelompok. Mereka adalah team yang memiliki tugas berbeda. Ada yang bertugas mencari mangsa di luar tempat thawaf. Ada pula yang berjaga di antara jama’ah haji di putaran terdekat Ka’bah. Serta beberapa orang bersiaga di sekitar Hajar Aswad yang bersiap “mengantarkan” jama’ah untuk mencium Hajar Aswad. Modus operandinya dengan menyamar sebagai jama’ah yang ikut thawaf. Mereka terlihat cukup lihai menandai jama’ah haji asal Indonesia. Biasanya para calo itu akan berpura-pura menawarkan bantuannya kepada jama’ah untuk mencium Hajar Aswad. Begitu jama’ah terlihat tertarik terhadap bantuan yang ditawarkan si calo, maka si calo akan dengan segala cara mengupayakan jama’ah agar bisa mencapai tujuannya. Mencium Hajar Aswad.

Yang memprihatinkan adalah cara para calo mengantarkan mangsanya menuju Hajar Aswad. Akan ada satu orang yang melindungi jama’ah agar dekat dengan pintu Ka’bah. Kemudian disorongkannya orang itu agar lebih mendekat ke arah Hajar Aswad. Selanjutnya anggota calo lainnya yang telah bersiaga di sekitar Hajar Aswad akan menghalau jama’ah lain yang hendak menuju batu keramat itu dan dianggap menghalangi jama’ah yang hendak ‘ditolongnya’ tadi. Menghalau di sini berarti memukul, menendang, menyeret atau menjambak atau perbuatan kasar lainnya. Pokoknya apa pun dilakukan demi mempermudah tujuan jama’ah yang diantarkannya tadi. Setelah tujuan sukses. Jama’ah langsung diantar keluar dari tempat thawaf sembari meminta sejumlah uang sebagai ganti jasa yang telah diberikannya.

Seorang jama’ah asal Jawa Timur yang awalnya tidak tahu menahu tentang praktik percaloan di sekitar Ka’bah, mengaku pernah terkecoh dengan ulah para calo. Ucapan para calo yang menawarkan bantuan menuju Hajar Aswad dikiranya sebagai hal wajar. Tapi alangkah terkejutnya jama’ah itu begitu selesai mencium Hajar Aswad, orang yang membantunya tadi langsung menggandengnya keluar dari lingkaran thawaf. Selanjutnya, orang yang belakangan diketahuinya sebagai calo tadi memaksanya membayar ongkos jasa sebesar lima ratus real.

Menyedihkan memang, melihat laku para calo di depan Ka’bah. Bagaimana mereka tega melakukan praktik percaloan di depan Baitullah. Bahkan jasa yang ditawarkan adalah untuk mencapai Hajar Aswad. Padahal seluruh muslim di dunia meyakini banyak tempat mustajab di sekitar tempat suci itu. Di sana ada Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, Multazam dan Hajar Aswad itu sendiri.

Persoalan mengenai “Siti Rahmah” dan calo Hajar Aswad ini menjadi layak untuk diperhatikan dan disikapi karena berkaitan dengan etika seorang muslim di Tanah Suci, di hadapan Baitullah. Kalau di Tanah Suci saja mereka tak bisa menjaga prilakunya, lalu bagaimana sikap keseharian mereka. Jika ketika menjadi tamu Allah saja mereka tak malu berlaku buruk, lalu di bagian bumi mana lagi mereka punya rasa malu.

Seharusnya, ada langkah-langkah yang diambil agar kejadian di atas tidak menjadi semakin runyam dan menjadi catatan buruk bagi jama’ah haji khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Untuk menghapus citra perempuan Indonesia sebagai “Siti Rahmah” mungkin tidak bisa dilakukan dengan serta merta. Namun paling tidak harus dilakukan upaya untuk memberikan pemahaman kepada calon jama’ah haji terhadap makna dibalik panggilan tersebut. Diantaranya dengan mengajak jama’ah perempuan untuk menolak panggilan tersebut. Penolakan bisa dilakukan dengan cara tidak merespon setiap ada yang memanggil jama’ah dengan sebutan “Siti Rahmah”. Atau penolakan bisa juga diwujudkan jama’ah dengan mengatakan: “Ana Hajjah, la siti rahmah.”

Disamping menolak julukan tersebut, hal lain yang harus dilakukan adalah memperbaiki sikap jama’ah haji itu sendiri agar julukan “Siti rahmah” tidak terus menerus melekat pada perempuan Indonesia. Kebiasaan berdandan dengan lipstik menyala atau pakaian yang memperlihatkan warna kulit tubuh ketika berangkat ke masjid atau ketika keluar dari tempat pemondokan hendaknya dihilangkan. Demikian juga sikap kemayu atau towal-towel tangan pedagang saat menawar barang adalah sikap negatif yang harus ditinggalkan.

Sedangkan untuk memberantas calo Hajar Aswad, sudah semestinya ada kerjasama antara pihak keamanan (baca: polisi) kerajaan Arab Saudi dan pemerintah Indonesia melalui petugas terkait untuk menyikapi hal ini. Sebab selain praktik percaloan adalah tercela dari segi hukum dan agama –apalagi calo Hajar Aswad-, kegiatan para calo juga mengganggu kekhusukan ibadah. Sebab cara-cara mereka melaksanakan pekerjaannya amatlah kasar dan menyakiti jama’ah lain. Padahal menyakiti orang lain adalah hal yang mesti dihindari.

Upaya menghapus praktik percaloan di sekitar Baitullah juga bisa dilakukan dengan menyebarkan informasi mengenai praktik percaloan di sekitar Baitullah. Informasi tersebut bisa diberikan melalui kelompok bimbingan haji atau para petugas haji di tanah suci. Para jama’ah diberikan pemahaman dan anjuran agar tidak sekali-kali menggunakan jasa calo untuk mencapai Hajar Aswad. Pemahaman tersebut harauslah diberikan melalui sudut pandang agama. Bagaimana Allah tidak mewajibkan umat Islam mencium Hajar Aswad, tapi hanya mensunnahkannya. Itu artinya tidak berdosa bagi jama’ah haji yang tidak mampu mencapainya. Namun, kesunnahan itu justru akan berbalik menjadi murka Allah jika untuk mencapai Hajar Aswad, seorang jama’ah melakukan perbuatan tercela. Semacam memukul, menendang, menyeret dan menjambak atau perbuatan kasar lainnya. Dengan memberikan larangan memanfaatkan jasa calo Hajar Aswad kepada jama’ah haji, diharapkan aktivitas para calo juga akan berhenti. Sebab sudah manjadi hukum dunia usaha, jika sepi peminat, maka akan gulung tikarlah usaha tersebut.

Label:

Minggu, 14 September 2008

JAM’IYYAH POKERIYYAH

OLEH: TUTIK NJ ROZIN

“King wajik…,” berteriak.
“As wajik…..,” suara balasan.
“Huu…..!!” Serentak suara sahut menyahut dengan kecewa.
“Eh, awas! Ada pengurus!” Umar, anak cirebon yang berambut cepak berbisik memeberi isyarat sembari bergerak cepat menyelipkan kartu-kartu bergambar wajik, skop, keriting dan merah hati itu ke bawah sarung yang sejak tadi dikalungkan di lehernya.
“Ehm, lagi ngapain nih. Malam-malam kok masih kumpul-kumpul. Belum pada ngantuk? Besok nggak boleh terlambat jama’ah subuh lho!” Ujang. Salah seorang pengurus bagian keamanan yang biasa bertugas ronda keliling pesantren lepas pukul 23.00. Sejenak masing-masing dari kami hanya saling pandang.
“Biasa kang Ujang, lagi ngobrol-ngobrol. Curhat.” Akhirnya Ahmad berinisiatif untuk menjawab pertanyaan kang Ujang.
“Iya nih kang. Belum bisa tidur. Kan mendingan ngobrol-ngobrol daripada ngelamun sendiri.” Umar ikut menimpali.

Dan masing-masing dari kamin pun sahut-menyahut mencoba mencairkan rasa suasana di antara kami. Hitung-hitung agar pengurus yang cukup kami segani itu tidak mengendus aktivitas kami yang sebenarnya. Maklum, meski pesantren tidak secara resmi melarang santrinya bermain kartu, tapi jika malam-malam yang mestinya bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat ini cuma dihabiskan untuk main kartu, tentu para senior pesantren ini akan mencela jika mengetahuinya.
“Ya udah kalo gitu. Tapi ngobrolnya jangan ampe tengah malam ya… Biar besok tetep bisa ngikut jama’ah subuh. Aku mo nerusin ronda dulu.” Kang Ujang pun berlalu. Kami menghela nafas lega. Dan permainan pun kami lanjutkan diam-diam.
***

Aku, Umar, Ahmad, Jundi dan Rian adalah santri satu angkatan di Pesantren ini. Kami berasal dari daerah dan latar belakan yang berbeda. Kalaupun akhirnya kami berlima akrab tentu ada kisahnya.

Ketika aku pertama kali masuk di pesantren ini, suasa pesantren sedang sepi. Maklum, saat itu liburan akhir tahun, menjelang tahun ajaran baru. Santri lama banyak yang pulang. Menghabiskan masa liburnya di rumah masing-masing atau ikut pengajian kilatan di pesantren lain. Hanya beberapa saja yang tersisa. Yakni pengurus yang bertugas atau santri lama yang berasal dari luar daerah.

Waktu itu aku baru lulus Sekolah dasar. Dan jujur saja, dalam hidupku baru kali itu aku berpisah dari keluargaku. Hari-hari pertama di pesantren adalah saat-saat yang berat. Aku belum punya banyak teman. Ketika malam tiba, ingatanku selalu melayang pada kampung halamanku. Pada ayah, ibu dan saudara-saudaraku. Juga sepeda balap hadiah dari kakek pada lebaran kemarin. Sepeda kesayangan yang selalu menemaniku kemana-mana. Juga teman-temanku di kampung sepertinya bersliweran di benakku sepanjang malam. Dan malam pun kulalui tanpa memicingkan mata sejenak pun.
Hingga bedug subuh ditabuh, aku masih resah membolak-balik badanku.
“Eh, kamu anak baru. Udah Subuh tuh. Cepet sana ambil air wudlu. Biar nggak masbuq jama’ah subuhnya.” Jazuli, santri senior yang belakangan kuketahui berasal dari Banten membangunkan lamunanku. Dengan malas kulipat selimutku. Aku beranjak mengambil air wudlu.
“Astaghfirullahal ‘adzim, alladzi laailaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilah……” Kyai sendiri yang memimpin jama’ah sholat subuh. Seusai salam, beliau meneruskan dengan melafadzkan dzikir ba’da sholat. Sementara jama’ah yang lain sedang khusyu’ melafadzkan kalimat-kalimat thoyyibah, Ingatanku justru kembali melayang pada kampung halamanku. Tak terasa, airmataku menetes. Aku merasa sangat rindu berkumpul dengan keluarga dan teman-temanku.

Hingga dzikir ba’da sholat subuh berakhir dan para santri kembali ke kamar masing-masing, aku belum selesai menumpahkan sedih hatiku. Sebenarnya aku malu menangis. Kata ibuku, lelaki tidak boleh menangis. Tapi saat itu aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan sedihku. Isakku tinggal satu-satu, ketika tiba-tiba aku merasa tidak sendirian. Kudengar isak lain tak jauh dari tempatku. Sedikit kupalingkan wajahku ke arah isak tertahan itu. Benar saja, di pojok musholla kulihat santri seusiaku juga sedang duduk dengan mata sembab. Seketika tangisku berhenti. Kupandangi anak itu. Aneh. Dia pun melakukan hal yang sama. Akhirnya kami saling berpandangan. Lalu kugeser dudukku mendekatinya.
“Rahmat.” Kuulurkan tanganku sambil menyebutkan nama.
“Umar.” Dia jua melakukan hal yang sama.
Sejak itulah kami berteman.

Itu kisahku bersahabat dengan umar. Berbeda dengan pertemananku dengan Ahmad, Jundi dan Rian. Keakrabanku dengan ketiganya berawal ketika pesantren mengadakan perlombaan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Pada bulan ini, pesantren kami memiliki tradisi menggelar berbagai macam perlombaan. Mulai dari lomba baca kitab, pidato, drama berbahasa Arab sampai sepak bola. Mungkin suasananya tidak jauh berbeda dengan suasana memperingati hari kemerdekaan RI di kampung-kampung.

Waktu itu kebetulan aku, Umar, Rian, Ahmad dan Jundi tergabung dalam satu tim sepak bola. Karena seringnya berlatih bersama, akhirnya kami jadi akrab satu sama lain. Biasanya kami memanfaatkan waktu bersama untuk ke perpustakaan, jalan-jalan atau sekedar ngobrol-ngobrol bareng. Pesantren kami memang memberi waktu pergi ke luar komplek pesantren setiap jum’at siang hingga sore. Saat itulah biasanya kami manfaatkan untuk jalan-jalan ke kota. Sekedar cuci mata atau refreshing.
Tapi ada hal baru dalam kebersamaan kami sejak liburan idul fitri kemarin. Rian memperkenalkan permainan baru pada kami. Dengan kartu-kartu bergambar skop, keriting, wajik dan merah hati di tangannya, Rian mengajari kami cara memainkannya.
“Lumayan kan, iseng-iseng buat ngisi waktu luang.” Ujar Rian ketika itu. Kami berempat mengamini saja.
“Ini namanya permainan poker. Gini nih caranya.”
Rian mengocok kartu-kartu itu beberapa kali. Lantas membagikannya pada kami berlima dan mengajari kami cara memainkannya.
“Mudah kan.” Rian bersemangat. Sementara Umar dan Jundi langsung mengikuti apa yang dicontohkan Rian. Aku dan Ahmad malah saling pandang.
“Bentar yan…” Aku menggantung ucapanku, sebelum akhirnya melanjutkannya dengan ragu. “Em… bermain kartu-kartu gitu dosa apa enggak sih?” tanyaku gamang. Yang lain serentak ikut memandang Rian dengan penuh tanya.
“Iya Yan. Ini termasuk judi apa enggak ya.. Kok aku sering liat preman-preman pada judi pake kartu kayak gini?” Ahmad ikut bertanya.
Rian terdiam sejenak. Ia memaklumi pertanyaan teman-temannya.
“Iya sih. Aku juga pernah liat preman-preman dengan kartu kayak gini lagi digerebeg polisi. Tapi sebenernya, yang namanya judi itu kan permainan yang pake uang taruhan. Jadi, yang menjadikan sesuatu itu diharamkan adalah taruhan yang membuat orang ketagihan dan penasaran terus-menerus, hingga lupa daratan. Dan itu yang dinamakan judi. Bukan permainan kartu ini yang diharamkan. Nah, kalo ada yang judi dengan menggunakan kartu semacam ini, itu kebetulan aja. Bukan berarti kartu dan permainan ini yang diharamkan. Tapi judinya itu yang dilarang.” Rian mengajukan argumennya panjang lebar.

.“Lagian, kita kan niatnya Cuma bermain. Tidak ada niat untuk berjudi atau taruhan apapun dengan permainan ini. Jadi tidak ada illat yang menyebabkan permainan ini dihukumi haram untuk dilakukan.” Jundi ikut memperkuat argument Rian.
“Iya juga ya..” Pikirku akhirnya. Membenarkan ucapan Rian dan Jundi.
Dan sejak saat itu, kami pun mulai gemar menghabiskan waktu-waktu kami untuk bermain kartu. Malam-malam selanjutnya, mulai pukul 23.00, seusai jam belajar bersama, sebelum beranjak tidur, kami berlima selalu bertemu untuk sekedar ngobrol-ngobrol sambil bermain poker. Bahkan kadang sampai menjelang subuh. Hingga akhirnya, iseng-iseng kami sepakat menami perkumpulan kami dengan nama Jam’iyyah Pokeriyyah. Nama yang tentu saja akan banyak menuai kritik kalau sampai para santri senior mengetahuinya.

Aktivitas jam’iyyh pokeriyyah tentu tidak berjalan dengan mulus-mulus saja. Banyak pro-kontra tentang permainan itu. Bagi mereka yang setuju tentu saja tertarik untuk bergabung dengan kami. Tapi bagi mereka yang kontra, berusaha sebisa mungkin menasehati kami. Namun dasar sedang gandrung, setiap kali ada teman yang berusaha memberikan nasehatnya pada kami, kami selalu saja mementahkan nasehat-nasehat itu dengan argumen bahwa permainan poker sama sekali bukan permainan yang dilarang agama. Sebab permainan ini kami lakukan bukan sebagai alat untuk berjudi.
Dan argumen sebagaimana yang dilontarkan Jundi dan Rian dulu itulah yang selalu kami gunakan landasan meneruskan kegemaran baru kami. Namun demikian kami akui jua, sebenarnya, hati kecil kami juga membenarkan ucapan mereka yang menganggap kami hanya menghamburkan-hamburkan waktu saja. Karena dorongan hati kecil itulah, walaupun dihadapan santri senior kami suka ngeyel, tapi dalam kenyataannya kami tetap saja selalu mencari tempat agak tersembunyi ketika melakukan permainan ini. Ada rasa segan atau semacam perasaan enggak enak hati tiap kali ada santri senior melirik permainan kami.

Malam ini, seperti biasa, seusai jam belajar bersama, kami kembali berkumpul disamping aula pesantren. Di teras yang agak menjorok ke dalam, sehingga agak terlindung dari mata yang melintasi aula tersebut.
“Tiga, empat, lima,…” Umar menurunkan kartunya.
“ J, Q, K,…” Ahmad tidak mau kalah.

Lagi asik-asiknya,

“ Masya Allah, lagi apa kalian ini….” Suara besar berwibawa tiba-tiba terdengar menggelegar di samping kami. Bukan kepalang rasa kaget bercampur malu dan segan. Entah kapan beliau datang. Rian dengan gemetar spontan menjatuhkan kartu-kartu ditangannya. Demikian juga yang lain. Kami tertunduk menatap lantai. Kartu-kartu berserakan di depan kami.
“Maaf kyai….,” Satu-satunya kalimat yang mampu kuucapkan. Suaraku tercekat di tenggorokan. Kulirik sejenak wajah teduh beliau. Kang Ujang tampak menyertai di belakang beliau. Sungguh, rasa malu begitu menguasaiku saat itu.
“Umar, Rahmat, Jundi, Ahmad, dan siapa satunya?” Kyai menunjuk Rian.
“Saya Rian, Kyai.” Rian menjawab dengan wajah tertunduk.
“Oh iya, Rian…” Kyai menggantung kalimatnya. Dan meski sejak awal kami sudah memiliki argumen tentang tidak adanya dosa dalam permainan ini, Tapi entah, ketika akhirya kami tertangkap basah oleh kyai, kami sama sekali tidak berani mendebat kyai dengan argument andalan kami. Justru rasa bersalah, segan, malu dan entah apalagi yang memenuhi hati kami. Jangan-jangan apa yang kami lakukan ini membuat kyai marah atau kecewa.

Kembali kupandangi wajah kyai lewat ekor mataku. Kulihat wajah teduhnya tidak berubah. Bahkan ada senyum menentramkan di sana.
“Aku tahu ini bukan masalah dosa atau bukan. Tapi kalian masih muda. Ada hal yang lebih berharga untuk menghabiskan waktu luang kalian.” Ucapan kyai terdengar tenang, teduh dan menggetarkan. Sepertinya kyai sudah tahu jawaban apa yang selalu kami berikan kepada setiap teman yang mempertanyaan kegandrungan kami pada permainan ini. Tidak ada satu pun dari kami yang berani menimpali ujaran kyai. Juga kang Ujang yang berada di belakang kyai.

“Sudah tengah malam, kalau kalian belum ingin tidur, Bantu kang Ujang ronda.” Kyai membenahi sorbannya yang tertiup angin malam. Sebelum kyai beranjak, kami berebut mencium tangannya. Ada rasa lega di wajah masing-masing di antar kami. Dan kyaipun menepuk pundakku sebelum berlalu.

Kyai memang tidak marah. Meski demikian, sejak itu kami memutuskan membubarkan Jam’iyyah Pokeriyyah. Bukan karena takut terhadap kyai. Hanya rasa segan saja, jika esok kyai masih melihat kami hanya menghambur-hamburkan waktu dengan bermain-main saja.

Label: