FILOSOFI JARIT Dalam Sudut Pandang Orang Jawa dan Aktifis Feminis
Pakaian adalah produk sejarah. Setiap masa selalu melahirkan mode pakaian yang berbeda. Zaman elvis Presley tentu berbeda dengan zaman Rano Karno. Jarak dan waktu memiliki kaitan penting bagi lahirnya sebuah mode. Demikian pula kondisi sosial, budaya dan politik.
Pakaian muncul karena kebutuhan manusia untuk melindungi dirinya dari sengatan matahari, dinginnya cuaca atau menutup bagian vital tubuhnya. Jadi pakaian adalah kebutuhan primitive manusia untuk melindungi dirinya dari mara bahaya.
Karenanya, setiap daerah memiliki kearifan lokal dalam menyikapi bahaya yang mengancamnya. Bagi suku Eskimo yang hidup di wilayah bersalju misalnya, mereka menggunakan baju bulu binatang sebagai pelindung tubuhnya. Sedangkan masyarakat yang hidup di padang pasir menggunakan jubah dan sorban sebagai penangkal panas dan badai gurun yang mengancam tubuhnya. Adapun masyarakat jawa kuno yang hidup di daerah beriklim tropis yang terkenal dengan terik matahari dan iklimnya yang cenderung lembab, menggunakan kain sebagai penutup badan.
Dalam masyarakat Jawa, yang disebut sebagai pakaian tradisional berkembang sesuai masa dan kondisi politiknya. Jika dikatakan jarit dan kebaya disebut sebagai pakaian nasional Indonesia yang berakar dari tradisi jawa misalnya, tentu bukan masyarakat jawa secara umum yang dirujuk. Sebab pada kenyataannya, sejarah kebaya dimulai oleh kaum bangsawan saja. Ini bisa dilihat dari relief yang tergurat di candi-candi kuno –Borobudur misalnya- selalu digambarkan bagaimana masyarakat umum ketika itu hanya memakai kain tanpa penutup dada sebagai pakaian sehari-hari. Tak terkecuali, berjenis kelamin perempuan atau laki-laki.
Hal ini menunjukkan, bahwa jarit adalah pakaian tradisional yang lebih awal digunakan oleh masyarakat Jawa kuno. Sedangkan kebaya dikenal lebih akhir melalui persentuhan tradisi para bangsawan.
Jarit sebagai pakaian trdisional adalah selembar kain yang digunakan sebagai pakaian bawahan. Awalnya, jarit tidak hanya digunakan oleh kaum perempuan. Namun jarit adalah baju untuk laki-laki atau pun perempuan. Hanya motifnya saja yang membedakan antara jarit atau kain yang dipakai oleh laki-laki atau perempuan.
Pada akhirnya, jarit memang mendapat beberapa penilaian. Ada beberapa sudut pandang yang menilai jarit bukan hanya sekedar penutup badan. Ada makna filosofis yang dianggap menyertai kemunculan selembar kain itu. Makna filosofis yang tentu tidak lepas dari sundut pandang masyarakat di sekitar pengguna jarit itu sendiri.
Bagi masyarakat Jawa, jarit bukan sekedar pakaian penutup badan. Jarit memiliki makna filosofis yang kuat berkaitan dengan setiap fase penting kehidupan manusia. Ketika seorang bayi dilahirkan, orang-orang Jawa akan membebat seluruh tubuh bayi itu dengan selembar jarit yang disebut “gedong”. Bahkan masyarakat Jawa kuno menyakini bahwa bayi-bayi itu tidak akan bisa tidur nyenyak tanpa “digedong”. Dengan “digedong”, bayi akan merasakan kenyamanan, keamanan dan kehangatan sebagaimana dalam pelukan rahim ibunya. Selain digedong atau dibebat seluruh tubuhnya kecuali wajahnya dengan jarit, bayi-bayi Jawa juga mesti digendong dengan memakai jarit. Bahkan di beberapa daerah di Jawa, muncul mitos yang cukup unik. Menurut mitos itu, bayi yang tidak pernah digendong memakai jarit akan tumbuh menjadi anak yang sulit diatur.
Fase penting setelah kelahiran adalah pernikahan. Ketika menikah, sepasang pengantin Jawa akan melalui serangkaian upacara sakral pernikahan dengan memakai jarit. Namun, tidak semua motif jarit boleh digunakan pada acara sakral itu. Motif parang dianggap sebagai motif yang paling tabu digunakan oleh sepasang pengantin. Pengantin yang memakai jarit bermotif parang diyakini akan mengalami pertengkaran besar atau rasa tidak tenang dalam membina rumah tangga. Karenanya, jarit bermotif parang sangat dihindari dalam sebuah upacara pernikahan.
Fase terakhir adalah kematian. Menurut tradisi Jawa, sebelum benar-benar dimasukkan ke dalam liang lahat, jenazah meski ditutup seluruh tubuhnya dengan selembar jarit. Hal ini diyakini sebagai pralambang perpisahannya dengan keluarga dan sanak saudara serta kehidupannya di dunia.
Begitu dalamnya arti jarit bagi masyarakat Jawa, tentu berbeda dengan ketika seorang aktifis feminis memandang jarit. Jarit bagi mereka adalah bukti begitu kuatnya sejarah patriarkhi dalam kehidupan masyarakat jawa. Dalam kacamata feminis, jarit adalah perwujudan masyarakat patriarchal untuk membatasi setiap gerak langkah perempuan. Dengan jarit, perempuan seolah dilokalisasi geraknya agar tak terlalu jauh dan terlalu cepat dalam melangkah. Upaya melokalisasi gerak perempuan di sini bukan hanya sebatas langkahnya dalam artian bahasa. Akan tetapi lebih jauh berkenaan dengan peranannya secara luas dalam cakupan sosial, politik maupun pendidikan. Bagi kaum feminis, jarit adalah pralambang keterkungkungan perempuan dalam tradisi budaya Jawa.
Dalam ranah seksual, kaum feminis juga memaknai jarit sebagai lambang keberadaan perempuan sebagai obyek seksual laki-laki. Ini bisa dilihat dari terbentuknya lekuk-lekuk tubuh perempuan berjarit dan berkebaya yang tidak kalah seksi jika dibandingkan dengan perempuan masa kini yang berpakaian ketat misalnya. Jarit juga dianggap sebagai alat mempermudah akses maskulinitas laki-laki terhadap sifat feminine perempuan. Dan nyatanya, perempuan yang berjalan dengan menggunakan jarit akan lebih mudah tersingkap betisnya daripada yang memakai rok atau celana panjang misalnya.
Pendapat aktifis feminis di atas tentu saja dengan mengandaikan jarit hanya dianggap sebagai pakaian perempuan belaka. Padahal kenyataannya, dalam sejarah pakaian tradisional Jawa, jarit bukan hanya monopoli kaum perempuan belaka. Laki-laki jawa pun memakai jarit. Meski berbeda dalam motif dan cara memakainya.
Perbedaan cara pandang orang Jawa dan para aktivis feminis dalam memaknai jarit memang tidak mungkin dipersatukan. Mengingat perbedaan mendasar keduanya dalam hal sejarah, cara pandang, basis filosofis dan metode penelitian yang mereka pergunakan. Masing-masing pun tidak untuk dihakimi mana yang dianggap paling benar. Sebab dalam sebuah tradisi intelektual, masing-masing pihak akan menghargai pendapat pihak lain.
Namun, apapun cara pandang kita, yang jelas jarit adalah bagian dari kekayaan budaya kita. Dalam selembar jarit terukir sejarah panjang sebuah peradaban. Dalam selembar jarit, ada karya, karsa dan dedikasi sekelompok manusia. Lagi-lagi, tugas kita untuk menghargainya.( Tutik NJ)
Label: Jenis Tulisan Non Fiksi
